LAMONGAN, Pijarnusantara – Tingginya intensitas hujan dalam beberapa hari terakhir menyebabkan banjir melanda Desa Kedungrejo, Kecamatan Modo, Kabupaten Lamongan. Genangan air mulai memasuki permukiman sejak Kamis (12/12/2025) pagi setelah Subuh, dengan ketinggian air mencapai 20 hingga 60 centimeter di berbagai titik.

Berdasarkan pantauan di lapangan, air menggenangi area permukiman warga, jalan desa, serta sejumlah fasilitas publik. Dua lokasi penting yang terdampak adalah kantor Desa Kedungrejo dan SDN 2 Kedungrejo yang berada persis bersebelahan. Genangan air yang merendam kedua lokasi ini menyebabkan pelayanan administrasi desa terhambat dan kegiatan belajar mengajar tidak dapat berjalan normal.
Selain itu, beberapa warga terlihat mengevakuasi ternak terutama sapi ke tempat yang lebih tinggi. Hal ini dilakukan untuk mencegah ternak terdampak banjir dan mengurangi potensi kerugian yang lebih besar.

Kepala Desa Kedungrejo, Ketut Priyambodo, menjelaskan bahwa banjir yang terjadi saat ini merupakan banjir tahunan yang selalu muncul ketika debit air sungai pembuangan Waduk Prijetan meningkat.
“Air mulai tinggi setelah Subuh. Ini banjir tahunan yang terjadi setiap kali sungai pembuangan Waduk Prijetan meluap,” jelasnya.
Menurutnya, untuk tahun ini luapan air lebih cepat dan volume banjir meningkat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Ketut menambahkan bahwa sejumlah dusun di wilayah Kedungrejo ikut terdampak, yaitu Dusun Krangpilang, Dusun Dopok, Dusun Topang, dan Dusun Gabang. Keempat wilayah tersebut mengalami genangan yang cukup merata, baik di area pemukiman maupun lahan pertanian.
“Sampai Kamis siang ini sudah dikonfirmasi Kurang lebih 200 hektare sawah warga yang sudah ditanami padi kini terendam. Hampir semua lahan pertanian tidak bisa diselamatkan jika air tidak segera surut,” ujarnya.
Kerusakan pada lahan pertanian ini dikhawatirkan berdampak pada ketahanan pangan warga, karena sebagian besar penduduk Desa Kedungrejo menggantungkan hidup dari sektor pertanian.
“Kami berharap ada solusi dari pemerintah daerah, provinsi, hingga pusat. Banjir tahunan ini semakin besar tiap tahun, dan lahan pertanian selalu menjadi korban,” tegasnya.
Sejumlah warga juga mengungkapkan kondisi yang mereka alami di tengah banjir tahunan tersebut.
Slamet, warga Dusun Gabang, mengatakan bahwa banjir telah membuatnya tidak dapat bekerja mengurus sawah.
“Sawah saya baru ditanami padi sekitar dua minggu lalu. Sekarang sudah tenggelam semua. Kalau begini terus, ya jelas gagal panen. Setiap tahun banjir, tapi tahun ini lebih parah,” keluhnya.
Di sisi lain, Sukarjo, warga Dusun Dopok yang memiliki beberapa ekor sapi, mengatakan ia harus bekerja ekstra cepat untuk menyelamatkan ternaknya.
“Tiap banjir datang, ternak pasti saya evakuasi. Kalau terlambat, bisa sakit atau tenggelam. Tahun ini airnya lebih cepat naik, jadi kami harus waspada terus,” katanya. [As’ad/P.Shal]
