MOJOKERTO, Pijarnusantara – Sikap dinilai tidak humanis ditunjukkan oleh pihak Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) 54.613.23 yang berlokasi di Jalan Mager Sari–Ngares Kidul Nomor 14, Kecamatan Jetis, Kabupaten Mojokerto. Dalam situasi darurat, pengendara yang kehabisan bahan bakar tepat di depan SPBU tersebut mengaku tidak mendapat bantuan dari pihak pengelola.


Peristiwa itu dialami Hermanto, seorang sopir mobil yang tengah melakukan perjalanan dari Lamongan menuju Kota Mojokerto. Ia menjelaskan, sejak sebelum tiba di lokasi, dirinya sudah berupaya mencari bahan bakar jenis Pertamax di sejumlah SPBU, namun dalam kondisi kosong.
“Pas di depan SPBU ini, mobil kita mati dan lock, tidak bisa bergerak sama sekali. Sudah coba didorong tapi tetap tidak bisa. Kita dari Lamongan mau ke arah Kota Mojokerto, dari sebelum pom ini kita sudah mencari Pertamax tapi pada kosong semua,” ungkap Hermanto, Senin (14/04).
Dalam kondisi darurat tersebut, rombongan yang turut bersama Hermanto mencoba meminta bantuan kepada petugas SPBU. Suliono, S.H., Direktur Utama PT Media Suara Publik Jawa Timur, yang berada di lokasi, mengaku sempat meminta agar petugas membantu mengisikan BBM ke dalam botol plastik yang telah disiapkan, mengingat posisi kendaraan yang sudah tidak dapat dipindahkan.

Namun, permintaan tersebut tidak dikabulkan. Petugas SPBU disebut tidak berani mengambil keputusan dan justru memanggil seorang perempuan yang disebut sebagai pemilik SPBU.
“Bukannya memberikan solusi dan tindakan, yang bersangkutan hanya menyampaikan soal aturan dari pertamina tanpa melihat kondisi darurat dan sisi kemanusiaan. Padahal mobil sudah macet tepat di depan SPBU miliknya,” ujar Suliono.
Menurut Suliono, dalam praktik di lapangan, kondisi darurat seperti kendaraan mogok di depan SPBU seharusnya dapat ditangani dengan pendekatan kemanusiaan. Ia menyebut, biasanya petugas dapat membantu dengan meminjamkan jerigen atau mengambilkan BBM secukupnya guna mengatasi kondisi darurat.
“Ini bukan transaksi normal, tapi bentuk bantuan kemanusiaan. Tujuannya jelas, untuk menghindari kemacetan, menjaga keselamatan pengguna jalan, dan memberikan pelayanan dasar,” tegas pria yang juga Pengacara itu.
Selain itu, seorang pengunjung SPBU yang enggan disebutkan identitasnya juga mengungkapkan kekecewaannya terhadap pengelolaan SPBU tersebut. Ia juga menyebut adanya dugaan praktik penyaluran BBM bersubsidi dalam jumlah besar kepada pengecer.
“Sering ada yang beli dalam jumlah besar, diduga untuk dilangsir. Tapi giliran kondisi darurat seperti ini, malah tidak dibantu,” ujarnya.
Menanggapi kejadian tersebut, Suliono menegaskan pihaknya akan melaporkan kejadian tersebut kepada pengawas SPBU.
“Kami akan melaporkan kejadian ini kepada pengawas SPBU agar ada evaluasi dan tindakan tegas. Ini menyangkut pelayanan publik dan keselamatan pengguna jalan,” tegasnya.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak pengelola SPBU terkait insiden tersebut maupun dugaan praktik penyaluran BBM bersubsidi kepada pengecer. [Hermanto/Red]
